Kapan ASI Perlu Diperah?
ASI dapat diperah apabila:
- 1. ASI keluar sangat banyak atau memancar.
- 2. Payudara terasa penuh dan tidak nyaman.
- 3. Ibu bekerja dan ingin meninggalkan ASI untuk bayi.
- 4. Bayi mengalami kesulitan mengisap.
- 5. Untuk mengurangi bendungan ASI.
- 6. Untuk mempertahankan produksi ASI saat ibu dan bayi terpisah.
A. Pengeluaran dengan Tangan
- 1. Gunakan wadah yang bersih untuk menampung ASI, dapat berupa wadah plastik khusus penyimpanan ASI atau wadah berbahan logam yang aman. Kebersihan wadah penting untuk mencegah kontaminasi ASI.
- 2. Cuci tangan terlebih dahulu dan duduklah dengan santai, sedikit mencondongkan badan ke depan. Gunakan wadah bermulut lebar seperti mangkuk atau cangkir agar ASI lebih mudah tertampung.
- 3. Pijat payudara dengan lembut dari dasar payudara menuju puting susu untuk merangsang refleks oksitosin (let-down reflex) yang membantu pengeluaran ASI. Kompres hangat atau mandi air hangat juga dapat membantu memperlancar aliran ASI.
- 4. Letakkan ibu jari di bagian atas areola (posisi jam 12) dan jari telunjuk di bagian bawah areola (posisi jam 6) sehingga membentuk huruf "C" dengan jari-jari mengelilingi payudara.
- 5. Tekan jari ke arah dada, kemudian pencet dan lepaskan secara ritmis tanpa menarik puting susu. Gerakan ini meniru pola isapan bayi saat menyusu dan membantu mengeluarkan ASI.
- 6. Hindari menarik puting atau memeras payudara terlalu keras, karena dapat menyebabkan nyeri, trauma jaringan, dan menghambat pengeluaran ASI.
- 7. Saat aliran ASI mulai melambat, ubah posisi jari mengelilingi areola untuk membantu mengosongkan saluran ASI dari berbagai bagian payudara, kemudian lanjutkan proses pemerahan.
- 8. Ulangi prosedur hingga payudara terasa lebih lembek dan kosong, menandakan sebagian besar ASI telah dikeluarkan. Setelah selesai, simpan ASI perah dalam wadah yang bersih dan tertutup sesuai pedoman penyimpanan ASI.
B. Pengeluaran dengan Pompa
Apabila payudara bengkak/terbendung (engorgement) dan puting susu terasa nyeri, maka akan lebih baik bila ASI dikeluarkan dengan pompa payudara. Pompa baik digunakan bila ASI benar-benar penuh, tetapi pada payudara yang lunak akan lebih sulit. Prinsip mendasar penggunaan pompa ASI adalah bahwa pompa tersebut menggantikan peran bayi dalam pengeluaran ASI. Berikut tahapan pengeluaran ASI dengan pompa yaitu:
- 1. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir hingga bersih. Pastikan seluruh komponen pompa (corong, katup/valve, dan botol) sudah dalam keadaan steril dan kering sempurna untuk mencegah kontaminasi bakteri pada ASI.
- 2. Cari posisi duduk yang tegak namun bersandar dengan rileks (hindari membungkuk). Minumlah segelas air hangat. Lakukan pijatan lembut pada payudara dengan gerakan melingkar dari pangkal menuju areola, atau kompres hangat selama beberapa menit untuk merangsang pengeluaran hormon oksitosin.
- 3. Posisikan puting tepat di tengah-tengah lubang terowongan corong pompa. Pastikan tidak ada jaringan payudara atau baju yang mengganjal, dan corong menempel kedap udara pada kulit di sekitar areola.
- 4. Menyalakan mesin pompa dan mulai dengan mode stimulasi (ritme hisapan cepat dan dangkal). Atur daya hisap pada level rendah yang tetap terasa nyaman. Tetap berada di mode ini sampai melihat tetesan atau pancaran ASI pertama mulai keluar (Let-Down Reflex bekerja).
- 5. Ubah mode pompa ke Mode Ekspresi (ritme hisapan lebih lambat dan dalam). Naikkan daya hisap secara bertahap sampai batas "Maksimal Nyaman", artinya hisapan kuat untuk mengeluarkan ASI secara optimal tetapi tidak menimbulkan rasa sakit. Jika aliran ASI mulai melambat, kembali ke Mode Stimulasi sejenak untuk memancing LDR kedua.
- 6. Saat mesin pompa bekerja gunakan tangan untuk memijat lembut area payudara yang masih terasa keras atau padat ke arah corong. Teknik kombinasi ini membantu mengosongkan kelenjar susu lebih tuntas dan mengeluarkan kandungan lemak tinggi (hindmilk).
- 7. Matikan mesin pompa terlebih dahulu sebelum melepaskan corong dari payudara (jangan menarik corong saat mesin masih menyedot untuk menghindari lecet). Usap sisa ASI di puting, lalu segera tuang ASI ke dalam kantong atau botol penyimpanan khusus dan masukkan ke dalam cooler bag atau lemari es.
Penyimpanan ASI
Penyimpanan ASI perah yang tepat sangat penting untuk menjaga kualitas nutrisi, keamanan mikrobiologis, dan kandungan bioaktif ASI.
- 1. Suhu Ruangan (≤25°C): ASI perah yang baru diperah dapat disimpan pada suhu ruangan hingga 4 jam pada suhu sekitar 25°C tanpa peningkatan bermakna risiko pertumbuhan bakteri, sehingga tetap aman untuk dikonsumsi bayi.
- 2. Cooler bag dengan Ice Pack (≤15°C): Dapat disimpan selama 24 jam. Cocok untuk ibu bekerja saat perjalanan atau belum tersedia lemari pendingin.
- 3. Lemari Es/Refrigerator (±4°C): ASI perah dapat disimpan hingga 4 hari. Penyimpanan dalam kulkas ≤4 hari merupakan pilihan optimal untuk mempertahankan kualitas nutrisi ASI.
- 4. Freezer dalam Kulkas 1 Pintu: Dapat disimpan sekitar 2 minggu. Sebaiknya digunakan lebih cepat untuk mempertahankan kualitas ASI.
- 5. Freezer Terpisah (Kulkas 2 Pintu): Dapat disimpan hingga 6 bulan. Masih aman diberikan kepada bayi apabila prosedur penyimpanan dilakukan dengan benar.
- 6. Deep Freezer (-18°C atau lebih rendah): Dapat disimpan hingga 12 bulan, namun kualitas terbaik diperoleh bila digunakan dalam 6 bulan pertama.
- 7. Pencairan ASI Beku: Cairkan di dalam lemari es atau dengan merendam wadah dalam air hangat. Jangan menggunakan microwave karena dapat merusak komponen imunologis ASI. ASI yang telah dicairkan dapat disimpan di lemari es selama 24 jam dan tidak boleh dibekukan kembali.